Emutan

Takut Memberikan Kebenaran

admimin / August 26, 2018
Takut Memberikan Kebenaran

Tak sengaja sebenarnya, ketika dalam sebuah acara Gereja, ketika aku sedang ‘melipir’ untuk menikmati sinyal wifi dari tempat tersembunyi, datanglah ia menghampiri. Seorang teman, lebih tepatnya seorang suami dari teman.

Usianya aku tidak tahu pasti, mungkin lebih muda. Temanku itu jauh lebih muda. Ya memang sih, aku itu banyak bergaul dengan anak-anak muda. Bukan karena semata aku ini pandai bergaul, cuma karena aku itu terlihat awet muda saja.

Anyway dia mengajakku mengobrol. Obrolan yang cukup berat. Mulai dari kesaksiannya di suatu sesi acara satu jam sebelum obrolan kami ini. Hingga memancing sebuah pikiran yang cukup berat.

Aku akan langsung lompat saja ke dalam topik yang berat ini. Ia mempertanyakan bagaimana mungkin kami (tentu saja dengan dia) tidak berani berbicara di depan publik untuk menyuarakan suatu kebenaran yang kami punya. Oh ya, kebenaran yang saya maksud ini adalah kebenaran dalam arti pemahaman agama dalam ajaran kami.

Sedangkan dalam kita suci kami ini, menyebarkan kebenaran ini adalah suatu perintah. Pertanyaan pertama adalah, apakah benar kami ini tidak menyebarkan kebenaran ini? Tidak juga. Kalau tidak menyebarkan, bagaimana mungkin di banyak kota kami bisa mendirikan rumah-rumah ibadah. Tapi ternyata poin pandangannya tertuju pada siapa yang mendirikan rumah ibadah di kota-kota itu. Menurutnya selama ia mengikuti ajaran kami ini, kurang lebih 14 tahun, yang mendirikan atau mengisi rumah-rumah ibadah itu sebenarnya adalah kami, anak-anak kami, yang lalu beranak-pinak dan mengisi rumah-rumah ibadah itu.

Menurutnya, tidak ada penambahan berarti dari orang luar. Orang luar adalah orang yang benar-benar di luar lingkungan keluarga yang sudah percaya. Orang yang kemudian percaya pada ajaran kami setelah mendengar atau diberitakan oleh orang yang sudah percaya.

Tidak ada gerakan penyebaran itu kepada orang di luar lingkungan keluarga. Ia sendiri mengakui, ia mempercayai ajaran ini awalnya karena tertarik oleh percintaan. Ia mencintai istrinya yang lebih dahulu mempercayai ajaran ini. Yang kemudian ia menyelami ajaran ini sendiri.

Tidak adanya gerakan penyebaran seperti inilah yang ingin ia ubah. Aku mengiyakan. Ada suatu ketakutan terselubung yang membuat kami, secara general, takut untuk memberitakan kebenaran itu. Kami lebih memilih untuk berdamai daripada memicu konflik.

Ya konflik pasti terjadi, karena namanya kebenaran, dalam masyarakat bersifat semu. Walaupun kami meng-klaim bahwa kebenaran kami adalah hakiki. Tapi menurut orang lain yang berbeda keyakinan, ajaran mereka pun bersifat hakiki. Mempunyai nilai kebenaran. Menurut kami lebih benar ajaran kami. Menurut mereka, ajaran merekalah lebih benar.

Kami ingin menghindari perdebatan. Apa gunanya menaklukan orang lain yang begitu erat memegang keyakinannya dengan menyerang kelemahannya dengan kelebihan kami? Atau bagaimana kami menemukan kelemahan-kelemahan mereka lalu memberikan argumen tentang kekuatan kami?

Jika kita berpikir adil, mereka pun akan berpikir sama dengan kita?

Menurut kami alangkah lebih baik, jika kebenaran kami ini menyentuh hati terdalam mereka. Bukan dengan penaklukan argumen yang bisa jadi hanya menghasilkan sakit hati. Bukankah lebih baik jika kebenaran kami ini menyentuh hati mereka, sehingga mereka berbalik dengan sukarela?

Bukankah begitu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *